![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Pheelings Media |
Fenomena El Nino sangat kuat tengah melanda Indonesia. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole positif di Samudra Hindia membuat masa kekeringan di Tanah Air makin panjang.
Musim hujan diprediksi datang terlambat dan berlangsung dengan durasi jauh lebih singkat.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," tegas Faisal dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Berdasarkan data BMKG hingga akhir Agustus, anomali suhu muka laut di wilayah Nino tiga titik empat Samudra Pasifik menembus angka plus dua koma delapan tiga dengan indeks ENSO plus dua koma enam tiga yang menjadi bukti sahih keganasan El Nino kali ini. Kondisi ini memicu kekeringan ekstrem yang 'menyandera' 61,9 persen daratan Indonesia.
Bahkan, rekor hari tanpa hujan terlama dipegang oleh wilayah Bantul, Yogyakarta, yang sudah kering selama 131 atau lebih dari empat bulan. Durasi kemarau yang terlalu panjang ini berisiko memicu masalah kesehatan lingkungan, terutama kualitas udara yang menurun drastis akibat debu dan potensi kebakaran hutan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, membeberkan awal musim hujan di Indonesia tidak akan terjadi bersamaan. Mayoritas wilayah baru akan terkena guyuran hujan pada akhir tahun, tepatnya pada November dan Desember. Secara total, ada 525 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia yang musim hujannya mundur.
Fase puncak musim hujan diprediksi baru akan terbagi mulai Desember hingga Februari tahun depan. Dampak dari mundurnya hujan dan durasinya yang menjadi lebih singkat, justru harus diwaspadai dari sisi medis.
Perubahan cuaca yang drastis atau pancaroba yang tertunda kerap menjadi 'masa subur' bagi penularan berbagai penyakit infeksi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, mengingatkan pentingnya bersiap menghadapi dampak lanjutan dari fenomena iklim ini. Selain krisis air bersih yang bisa memicu penyakit pencernaan seperti diare, fase setelah kemarau panjang juga menyimpan 'bom waktu' bagi penyakit tular vektor.
Merespons situasi darurat ini, BMKG mengeluarkan rekomendasi khusus untuk sektor kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta bersiap menyiapkan mekanisme respons terhadap kondisi kualitas udara yang kurang sehat berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan guna menurunkan kelembapan saat musim hujan nanti tiba.
Langkah antisipasi yang tidak kalah krusial adalah memperketat gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan larvasidasi sejak dini.
Sebab, ketika musim hujan yang singkat dan tidak menentu itu akhirnya datang, genangan air berpotensi muncul di mana-mana dan menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti. Fasilitas kesehatan pun diminta mulai bersiap mengantisipasi adanya lonjakan kasus demam berdarah dan penyakit akibat genangan pasca hujan atau banjir agar fasilitas medis tidak kewalahan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Lagi Terjadi di RI, Seserius Ini Dampaknya"
