Hagia Sophia

09 October 2026

Beberapa Hal yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Pes

Foto: Getty Images/Nimito

Kematian seorang pekerja perempuan di lembaga penelitian antipes di Irkutsk, Rusia, memicu perhatian setelah muncul dugaan kasus tersebut berkaitan dengan penyakit pes. Sejumlah laporan menyebut sekitar 200 orang yang diduga melakukan kontak dengan kasus tersebut kini berada dalam pengawasan medis.

Namun, penyebab pasti kematian pekerja tersebut masih membutuhkan konfirmasi resmi. Ia dilaporkan mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Otoritas Rusia juga menyatakan situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk masih stabil.

Di tengah informasi yang masih berkembang, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan kejadian tersebut masih membutuhkan data dan informasi yang lebih jelas serta konfirmasi resmi. Meski demikian, menurutnya, ada setidaknya lima hal yang perlu diketahui mengenai penyakit pes.

Fakta-fakta penyakit pes

Penyakit pes dikenal sebagai penyebab Black Death atau Wabah Hitam yang terjadi pada 1346-1353 dan menewaskan sekitar puluhan hingga ratusan juta orang di Eropa, Asia, serta Afrika. Prof Tjandra menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu pengalaman buruk dalam sejarah pandemi dunia. Di Indonesia, wabah pes juga pernah terjadi pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa, sebagaimana disebutkan dalam laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 12 April 2026.

"Kedua, laman WHO 29 September 2026 beberapa hari yang lalu menuliskan bahwa penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis," ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (5/10/2026).

Ia menjelaskan, penyakit ini merupakan zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, dan kemudian dapat menular antarmanusia melalui kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi maupun partikel yang terhirup saat bernapas. Menurutnya, hal tersebut membuat penyakit pes perlu mendapat perhatian khusus. Di Rusia, sekitar 200 orang yang melakukan kontak dengan kasus dilaporkan berada dalam pengawasan.

Pes sendiri memiliki beberapa bentuk. Bubonic plague ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, sedangkan bentuk lainnya dapat menyebar melalui sirkulasi darah atau menyebabkan septikemia. Ada pula pneumonic plague yang menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia. Kasus pekerja laboratorium di Rusia tersebut juga diberitakan mengalami pneumonia, meski belum dijelaskan secara pasti bagaimana manifestasinya.

"Keempat, pes memang dapat saja menjadi berat dan bahkan menimbulkan kematian. Angka kematian "Bubonic plague" adalah antara 30% sampai 60%, sementara "pneumonic plague" amatlah ganas dan pasien akan meninggal kalau terlambat diobati," ucapnya.

Sementara itu, lanjut Prof Tjandra, tidak ditemukannya kasus pes pada manusia di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bukan berarti negara ini sepenuhnya bebas dari penyakit tersebut. BRIN menyebut adanya fenomena silent period, yakni masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi masih berpotensi muncul kembali.

Peneliti BRIN juga menemukan bakteri penyebab pes beserta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia. Karena itu, Prof Tjandra mengingatkan agar perkembangan situasi di Rusia terus dipantau dan Indonesia tetap berhati-hati terhadap kemungkinan penyakit pes.

"Kita perlu pantau dengan ketat tentang apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita," tuturnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Eks Petinggi WHO Soroti Kematian Pekerja Lab Rusia, Ini 5 Hal tentang Penyakit Pes"