Hagia Sophia

02 October 2026

Gejala Pneumonia yang Bisa Muncul pada Lansia

Pneumonia (istimewa)

Ketika orang tua atau anggota keluarga lansia tiba-tiba tampak linglung, sering bengong, atau bicara tidak nyambung, keluarga kerap menganggapnya sebagai hal maklum akibat faktor usia atau pikun.

Namun, perubahan perilaku dan tingkat kesadaran secara mendadak pada lansia sebenarnya bisa menjadi tanda bahaya dari infeksi paru-paru serius, seperti pneumonia.

Berbeda dengan kelompok usia muda yang biasanya menunjukkan reaksi imun tubuh secara jelas melalui batuk hebat atau demam tinggi, gejala pneumonia pada lansia sering kali samar dan justru menyerang sistem saraf akibat penurunan kadar oksigen dalam darah.

Perubahan Perilaku dan Effort of Breathing

Dalam sesi diskusi panel mengenai kesehatan paru, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik Infeksi, dr Joyce, SpPD memaparkan, gejala infeksi paru pada lansia sering kali luput dari pengamatan keluarga karena tidak selalu diawali dengan batuk.

Saat kondisi paru-paru lansia mulai terinfeksi dan saturasi oksigen menurun, respons tubuh yang muncul dapat berupa perubahan perilaku verbal, kognitif, hingga cara bernapas yang membutuhkan usaha ekstra (effort of breathing).

"Kalau pada lansia, kalau dia tidak perbaikan 3-4 hari apalagi ada gejala misalnya selain demam dia lebih lesu lebih banyak tidur. Kita perhatikan 15 menit sampai 20 menit diajak bicara tuh napasnya kayak agak ngos-ngosan," kata dr Joyce dalam acara Media Roundtable Pneumonia Pneumokokus di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

"Kalau sudah semakin perburukan saturasinya, mereka (lansia) tuh bisa halusinasi. Bisa kayak ngantuk atau misalnya kayak bengong ya. Istilahnya lambat atau kalau ngomongnya gak nyambung, berarti itu harus segera dibawa ke rumah sakit," lanjutnya.

Mengapa Gejala pada Lansia Berbeda?

Penyebab utama dari timbulnya gejala "aneh" ini adalah adanya perubahan fisik dan riwayat penyakit penyerta (komorbid) yang dimiliki oleh lansia.

Seiring bertambahnya usia, otot-otot pernapasan serta silia (rambut halus penapis saluran napas) mengalami penurunan fungsi, sehingga kemampuan untuk membatukkan dahak secara mandiri menjadi berkurang.

"Nah, problem-nya para lansia itu, sudah terjadi perubahan struktur. Karena apa? Satu, memang mereka rata-rata punya komorbid, ya," katanya.

Ketika bakteri atau mikroba berhasil masuk ke saluran napas bawah lansia yang memiliki komorbid, seperti diabetes, hipertensi, atau riwayat stroke, peradangan akan terjadi dengan cepat.

Cairan atau penumpukan kotoran di kantong udara (alveoli) menghambat pertukaran oksigen, yang pada akhirnya membuat lansia menjadi lemas, mengantuk, hingga mengandalkan usaha bernapas yang lebih berat.

Langkah Pencegahan Bagi Keluarga dan Caregiver

Mengingat gejala pneumonia pada orang tua sering kali terselubung di balik penurunan kondisi mental, keluarga dan caregiver diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan medis jika menemukan perubahan respons pada lansia.

Memantau saturasi oksigen secara berkala di rumah, memperhatikan pola napas saat diajak berbicara, serta memeriksakan lansia ke fasilitas kesehatan saat mereka mulai menunjukkan kelelahan luar biasa adalah kunci penting untuk mencegah perburukan kondisi yang mengancam jiwa.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sering Dikira Pikun, Ini Gejala Pneumonia yang Bisa Muncul pada Lansia"