Hagia Sophia

11 October 2026

Kasus Stroke Usia 20-50 Tahun Melonjak 2 Kali Lipat, Inikah Pemicunya?

Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491

Stroke kerap diidentikkan sebagai penyakit yang hanya mengintai kelompok usia lanjut. Tetapi, studi terbaru dari University of Cincinnati menunjukkan tren mengkhawatirkan.

Angka kejadian stroke pada kelompok usia muda (20-54 tahun) melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tiga dekade lalu. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari para pakar kesehatan.

George Howard, ilmuwan senior dan profesor dari University of Alabama at Birmingham, menyebut dampak stroke pada anak muda sangat menghantam kualitas hidup.

"Beban kesehatan akibat mengalami stroke di usia muda sangatlah besar. Seseorang bisa hidup bertahun-tahun setelah mengalami stroke dengan dampak sisa yang signifikan, baik dari segi biaya penanganan maupun penurunan kualitas hidup pasien," ungkap Howard, dikutip dari Newsweek.

Mengapa Kasus Stroke pada Anak Muda Melonjak?

Hingga saat ini, para peneliti masih terus mendalami penyebab pasti di balik lonjakan kasus ini. Namun, sejumlah pakar menilai ada keterkaitan kuat antara gaya hidup modern dan penyakit kronis yang muncul lebih awal.

Dr Lee Schwamm, profesor neurologi serta informatika biomedis dan sains data di Yale University, menjelaskan bahwa pemicu utamanya adalah penyakit metabolik yang kerap tak disadari oleh anak muda.

"Sangat mungkin sebagian besar peningkatan ini disebabkan oleh makin maraknya faktor risiko seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi di kalangan pasien muda, baik yang sudah terdeteksi maupun tidak, yang kemudian memicu terjadinya stroke iskemik di usia lebih muda," terang Dr Schwamm.

Senada dengan hal tersebut, Profesor Epidemiologi dari University of Michigan, Lynda Lisabeth, menambahkan bahwa kurang maksimalnya penanganan medis awal pada anak muda turut memperburuk keadaan.

"Deteksi, pengobatan, dan pengontrolan faktor risiko yang belum optimal, khususnya pada hipertensi, dapat berkontribusi terhadap lonjakan risiko stroke di usia muda," ujar Lisabeth.

Lisabeth juga menyebut faktor perubahan demografi sebagai alasan tambahan, mengingat kelompok ras dan etnis tertentu memiliki kerentanan serta beban risiko stroke yang berbeda di usia muda.

Langkah Penting Pangkas Risiko Stroke

Meski tren ini terbilang mengkhawatirkan, Dr Lee Schwamm menegaskan bahwa langkah-langkah yang digunakan untuk mencegah penyakit jantung juga sangat efektif untuk mencegah stroke. Ia merujuk pada panduan Life's Essential 8 dari American Heart Association (AHA).

Ia menyarankan anak muda untuk mulai rutin memeriksakan kondisi tubuh sejak dini tanpa menunggu gejala muncul.

"Untuk anak muda, saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan memastikan Anda menjalani tes darah dasar untuk memantau faktor risiko, termasuk pemeriksaan kolesterol paling lambat pada usia 18 tahun," imbau Dr Schwamm.

Sementara itu, Prof George Howard menekankan pentingnya primordial prevention. Itu merupakan sebuah konsep medis pencegahan yang berfokus pada penghentian munculnya faktor risiko sejak dari akar penyebabnya.

"Mencegah hipertensi, mencegah diabetes, dan tidak pernah mulai merokok tampaknya merupakan langkah terbaik bagi anak muda untuk mengurangi risiko stroke," tegas Howard.

Ia menambahkan bahwa risiko hipertensi dan diabetes di usia muda pada dasarnya bisa ditekan secara signifikan hanya dengan menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, serta menjaga perilaku hidup aktif.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Stroke Usia 20-50 Tahun Meroket 2 Kali Lipat, Pakar Ungkap Pemicu Utamanya"