Hagia Sophia

11 October 2026

Pakar Kawatir Tunda MCU Jadi Bagian dari Gaya Hidup Akibat Merosotnya Ekonomi

Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Fenomena downgrade lifestyle atau menurunkan gaya hidup tengah ramai dilakukan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang menuntut pengeluaran lebih selektif. Namun, pakar kesehatan mengingatkan agar penghematan tidak sampai membuat masyarakat menunda medical check-up dan skrining kesehatan.

Dokter dan pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan pemeriksaan kesehatan kerap dianggap bukan kebutuhan mendesak, terutama ketika seseorang merasa sehat dan tidak memiliki keluhan.

Padahal, keputusan menunda pemeriksaan dapat membuat sejumlah faktor risiko atau penyakit baru diketahui ketika kondisinya sudah memburuk.

"Yang saya khawatirkan dari fenomena downgrade gaya hidup adalah masyarakat tidak hanya mengurangi belanja tersier, tetapi juga mulai menunda medical check-up dan skrining kesehatan. Padahal, banyak penyakit berkembang diam-diam tanpa gejala dan bisa dideteksi dini lewat skrining rutin," beber dr Ray dalam keterangan tertulis Rabu (7/10/2026).

Menurut dr Ray, sejumlah kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, anemia hingga gangguan fungsi organ dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan berarti. Seseorang bahkan bisa tetap merasa sehat, bekerja, dan beraktivitas seperti biasa meski faktor risikonya terus berkembang.

"Pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk orang yang sedang sakit. Justru ketika merasa sehat, skrining diperlukan untuk mengetahui apakah ada risiko yang sedang tumbuh tanpa disadari," jelasnya.

Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis

Di tengah kondisi ekonomi yang membuat masyarakat harus mengatur kembali pengeluaran, dr Ray mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Menurutnya, CKG dapat menjadi salah satu akses untuk melakukan deteksi dini sekaligus membantu masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar tanpa menambah beban biaya.

"Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi," tegas dr Ray, yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).

Ia menilai penghematan dengan mengorbankan deteksi dini justru berpotensi menjadi beban finansial yang lebih besar di kemudian hari.

Penyakit yang terlambat diketahui dapat membutuhkan terapi lebih panjang dan pengobatan yang lebih kompleks. Kondisi tersebut juga bisa berdampak pada produktivitas hingga pendapatan keluarga jika seseorang akhirnya tidak dapat bekerja.

"Menunda membeli barang konsumtif mungkin merupakan penghematan. Namun, menunda skrining kesehatan belum tentu menghemat. Bisa jadi kita hanya memindahkan biaya kecil hari ini menjadi biaya pengobatan yang jauh lebih besar pada kemudian hari," katanya.

Karena itu, dr Ray mengingatkan fenomena downgrade lifestyle sebaiknya diikuti dengan literasi kesehatan yang baik. Masyarakat perlu memilah pengeluaran mana yang bisa dikurangi dan kebutuhan dasar apa yang tetap harus dipertahankan.

"Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit," pungkas dr Ray.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ramai Downgrade Lifestyle 'In This Economy', Pakar Khawatir Warga +62 Ikut Tunda MCU"