Hagia Sophia

12 October 2026

Seberapa Besar Risiko Pes Menjadi Wabah Global?

Foto: REUTERS/Stringer

Pada Jumat pekan lalu, seorang perempuan meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui di Siberia setelah diduga terpapar pes. Media Rusia melaporkan hampir 200 orang ditempatkan dalam isolasi. Otoritas setempat segera meredam kekhawatiran yang muncul, tetapi spekulasi dan keresahan di dunia maya terus menyebar.

Perempuan berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova bekerja di Institut Anti-Pes di wilayah Irkutsk, Siberia. Laporan yang belum terkonfirmasi menyebutkan Shipilova mengalami gejala mirip pneumonia setelah memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri penyebab pes atau setelah melakukan perjalanan lapangan ke wilayah Buryatia, yang berbatasan dengan Mongolia. Di wilayah tersebut, pes diketahui bersifat endemik pada hewan liar.

Hingga saat ini, penyebab kematian Shipilova belum dikonfirmasi secara resmi dan pemeriksaan laboratorium dilaporkan masih berlangsung. Namun, satu hal yang cukup jelas, para ahli menilai kasus ini kemungkinan kecil berkembang menjadi wabah global. Berikut alasannya.

Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Secara klinis, penyakit ini memiliki tiga bentuk, yakni pes bubonik, pes pneumonik, dan pes septikemik.

Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum dan ditularkan melalui gigitan kutu yang terinfeksi. Setelah masuk ke tubuh manusia, bakteri bergerak menuju kelenjar getah bening dan menyebabkan pembengkakan yang terasa nyeri, yang disebut bubo, terutama di area selangkangan, leher, dan ketiak. Penularan pes bubonik dari manusia ke manusia jarang terjadi. Namun, bakteri dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan pes septikemik atau menuju paru-paru dan menyebabkan pes pneumonik.

Berbeda dengan bentuk pes lainnya, pes pneumonik dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui droplet kecil di udara yang keluar saat seseorang batuk atau bersin. Pes pneumonik juga biasanya dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Gejala penyakit ini dapat muncul hanya dalam waktu sekitar 24 jam setelah terpapar.

Wabah 'Black Death', yang disebabkan oleh pes bubonik dan pes pneumonik, menewaskan lebih dari 25 juta orang di Eropa pada abad ke-14 dan menghilangkan sekitar sepertiga hingga dua pertiga populasi. Penyebarannya didukung oleh terbukanya jalur perdagangan baru serta masuknya berbagai barang, seperti biji-bijian dan tepung, melalui kapal.

Namun, kondisi kehidupan modern jauh kurang mendukung penyebaran pes secara luas.

Pertama, meskipun Yersinia pestis penyebab pes pneumonik hampir selalu berakibat fatal jika tidak ditangani, penyakit ini saat ini dapat diobati dengan antibiotik yang sederhana dan tersedia secara luas.

"Kami memiliki dua pengobatan yang bekerja sangat baik untuk pes bubonik," kata Piero Olliaro, profesor penyakit menular yang berkaitan dengan kemiskinan di University of Oxford, dikutip dari BBC.

Pada 2025, Olliaro dan rekan-rekannya menerbitkan uji klinis acak terkontrol pertama untuk pengobatan pes bubonik di Madagaskar. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dua jenis antibiotik, yakni ciprofloxacin oral dan aminoglikosida yang diberikan melalui suntikan, masing-masing memiliki tingkat efektivitas 91 persen dan 92 persen dalam mengobati pes bubonik.

Bahkan pada sejumlah kecil kasus ketika pes berkembang menjadi bentuk pneumonik, 85 persen pasien dapat pulih dan bertahan hidup dengan pengobatan yang diberikan secara cepat.

Alasan lain mengapa pandemi pes sangat kecil kemungkinannya terjadi adalah karena, berbeda dengan virus penyebab COVID-19, pes pneumonik baru dapat menular setelah gejala muncul. Gejala biasanya muncul dalam waktu sekitar 24 jam setelah terpapar.

Gejalanya juga berat dan mudah dikenali. Hal ini memungkinkan kasus lanjutan segera ditemukan, diisolasi, dan ditangani sebelum terjadi penularan lebih lanjut.

"Ini bukan sesuatu yang mudah luput dari perhatian, hingga kita melihat orang-orang naik pesawat, bepergian ke berbagai tempat, lalu muncul infeksi baru di mana-mana," kata Zania Stamataki, profesor madya imunologi virus di University of Birmingham. Menurutnya, kondisi tersebut akan cukup cepat terlihat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seluruh kontak pasien dilaporkan telah diidentifikasi dan sedang dipantau. Hingga saat ini, tidak ada yang menunjukkan gejala penyakit. Langkah tersebut sejalan dengan rekomendasi kesehatan masyarakat dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yang menganjurkan identifikasi orang-orang yang dianggap berisiko untuk kemudian dipantau, diperiksa, dikarantina, dan diberikan antibiotik bila diperlukan.

Christian Lindmeier, juru bicara WHO, menyampaikan penilaian awal organisasi tersebut pada Selasa. Ia mengatakan risiko saat ini "sedang hingga rendah" untuk Irkutsk, rendah untuk Rusia secara keseluruhan, dan sangat rendah untuk kawasan Eropa WHO.

Secara umum, penularan pes di lingkungan laboratorium merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi karena biasanya terdapat protokol ketat untuk mencegah paparan secara tidak sengaja. "Ini adalah laboratorium yang sangat khusus," kata Stamataki. "Ada lapisan perlindungan yang sangat banyak."

Stamataki menjelaskan, misalnya, para peneliti menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Sampel juga hanya ditangani di dalam kabinet biosafety. Kabinet tersebut menggunakan tekanan udara negatif sehingga aliran udara bergerak ke dalam dan menjauh dari pengguna.

"Jika sebuah tabung pecah, tabung itu akan pecah di dalam kabinet dan pengguna akan terlindungi," jelasnya.

Bahkan saat tabung dipindahkan, tabung tersebut ditempatkan di dalam wadah pelindung sekunder, kata Stamataki. Para teknisi juga menjalani pelatihan ketat sebelum bekerja di laboratorium semacam itu.

Salah satu alasan utama pes dapat menyebar dengan sangat cepat pada abad ke-14 adalah buruknya kondisi kehidupan masyarakat pada masa itu. Sampah dan sisa makanan berserakan di jalanan sehingga menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus hitam, yang membawa kutu penyebar penyakit. Masyarakat juga hidup dalam kondisi yang sangat padat, sementara para pedagang menghabiskan waktu berbulan-bulan di kapal yang penuh sesak.

Kondisi seperti itu kini sudah tidak lagi menjadi gambaran umum di sebagian besar wilayah dunia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kematian Misterius Pekerja Lab di Rusia, Seberapa Besar Risiko Pes Menjadi Wabah Global?"