![]() |
| Foto: Getty Images |
Kasus influenza di Singapura meningkat ke level tertinggi sejak 2024. Kondisi ini terjadi di tengah kabut asap imbas karhutla di Indonesia yang masih menyelimuti negara tersebut. Dokter mengingatkan kualitas udara buruk dapat memperparah gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
Data mingguan dari Communicable Diseases Agency (CDA) Singapura menunjukkan 44 persen sampel pernapasan yang diperiksa terkonfirmasi positif influenza pada periode 27 September hingga 3 Oktober 2026.
Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 20 persen pada awal Agustus. Positivity rate influenza ini juga menjadi yang tertinggi sejak data mingguan mulai dikumpulkan pada Februari 2024.
Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan unit gawat darurat (UGD) mengalami peningkatan pasien dengan keluhan pernapasan dibandingkan pekan sebelumnya. Poliklinik juga melaporkan tren serupa.
Dikutip dari CNA, Minggu (11/10/2026), Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) menyatakan fasilitas kesehatan telah memiliki langkah penanganan dampak kabut asap yang disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
MOH juga memastikan persediaan medis untuk menangani gangguan kesehatan akibat kabut asap masih mencukupi. Fasilitas kesehatan secara rutin memantau stok untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan selama periode kabut asap berkepanjangan.
Konsultan Departemen Kedokteran Pernapasan dan Perawatan Kritis Singapore General Hospital (SGH), Dr Chew Si Yuan, mengatakan influenza saat ini menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan yang ditemukan pada pasien.
"Selama satu bulan terakhir, kami melihat lebih banyak kasus dari biasanya. Berdasarkan pengamatan kami, jumlah kasusnya dengan mudah mencapai dua hingga tiga kali lipat dari biasanya," ujarnya.
SGH telah menerapkan langkah antisipasi untuk menghadapi lonjakan pasien, termasuk penyesuaian penempatan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan. Rumah sakit juga menggunakan pembersih udara, menutup jendela dan pintu bangsal yang tidak berpendingin udara, serta meningkatkan pemantauan pasien berisiko tinggi.
Kabut Asap Memperburuk Gangguan Pernapasan
Dokter mengingatkan paparan polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Kelompok yang perlu lebih waspada meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru-paru atau jantung.
Meski demikian, CDA menyebut belum ada bukti kuat bahwa kabut asap membuat infeksi influenza yang dialami seseorang menjadi lebih parah.
Direktur Kelompok Program Penyakit Menular CDA, Prof Lim Poh Lian, menjelaskan peningkatan jumlah kasus influenza memang dapat diikuti bertambahnya jumlah kasus berat secara keseluruhan. Namun, belum ada indikasi peningkatan tingkat keparahan influenza dibandingkan periode sebelumnya.
Hubungan antara paparan kabut asap dan tingkat keparahan influenza juga belum banyak diteliti.
"Secara umum, polusi udara dapat mengiritasi sistem pernapasan. Orang dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis bisa mengalami lebih banyak kesulitan ketika terpapar polusi udara," jelasnya.
Penelitian Duke-NUS Medical School dan SGH yang menggunakan data nasional selama enam tahun, yakni pada 2016-2022, menemukan hubungan antara peningkatan kadar PM2.5 dan kunjungan ke UGD akibat asma serta penyakit paru-paru kronis.
Studi tersebut menemukan bahwa setiap kenaikan 10 poin kadar PM2.5 berkaitan dengan peningkatan sekitar 3 persen kunjungan UGD akibat gangguan pernapasan.
Direktur Program Riset Layanan dan Sistem Kesehatan Duke-NUS, Prof Marcus Ong, mengatakan dampak peningkatan polusi udara tidak selalu langsung terlihat pada hari yang sama.
Peningkatan kunjungan pasien ke UGD akibat gangguan pernapasan dapat terlihat dalam beberapa hari setelah lonjakan polusi terjadi.
"Ketika terjadi lonjakan polusi udara, dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Namun, dalam dua hari berikutnya, biasanya terlihat peningkatan jumlah kasus yang datang ke UGD," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Flu di Singapura Tertinggi Sejak 2024, Kunjungan di IGD Nanjak Imbas Karhutla"
