![]() |
| Foto: Ilustrasi insomnia (Getty Images/AsiaVision) |
Orang yang mengalami insomnia tentu mengetahui gangguan tidur ini dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih sulit dijalani. Namun, kesulitan tidur tidak hanya menyebabkan tubuh terasa lelah dan mengantuk. Penelitian yang diterbitkan pada September 2026 ini menemukan bahwa kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko stroke.
Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews tersebut menganalisis data dari enam studi sebelumnya dengan total 1,3 juta partisipan. Studi-studi itu meneliti berbagai faktor risiko stroke, cedera akibat pekerjaan, dan rawat inap di rumah sakit.
Hasil analisis menunjukkan bahwa orang yang mengalami insomnia memiliki risiko stroke 26 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tidur tersebut. Dikutip dari laman News Medical, dari lima studi yang dievaluasi untuk penerimaan rawat inap, meta-analisis mengungkap bahwa orang dengan insomnia juga tercatat 28 persen lebih tinggi lebih mungkin dirawat di rumah sakit.
Hubungan antara insomnia dan stroke mungkin tidak terlihat jelas. Namun, dokter mengatakan bahwa keterkaitan tersebut masuk akal.
"Tidur memengaruhi banyak aspek kesehatan dan kesejahteraan, sehingga harus ditanggapi dengan serius," kata Beth Malow, ahli neurologi sekaligus kepala Divisi Gangguan Tidur di Vanderbilt Health.
Penelitian sebelumnya pada 2023 juga menemukan hubungan antara insomnia dan stroke. Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Neurology terhadap 31.126 orang dewasa menyimpulkan bahwa mereka yang melaporkan gejala insomnia lebih mungkin mengalami stroke selama masa tindak lanjut sembilan tahun. Hubungan tersebut sangat kuat pada orang dewasa berusia di bawah 50 tahun.
"Gangguan tidur berkontribusi terhadap peradangan, peningkatan pembekuan darah, dan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan stroke," kata Malow.
Sementara itu, menurut ahli bedah vaskular Christopher Yi, kurang tidur juga meningkatkan pelepasan hormon stres kortisol dalam tubuh. Seiring waktu, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah, detak jantung, dan berbagai perubahan lainnya.
"Perubahan ini dapat memicu penumpukan plak di arteri dan berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke," kata Yi.
Menurutnya, insomnia juga dapat berdampak negatif pada metabolisme, sehingga meningkatkan kemungkinan kenaikan berat badan, diabetes, dan kolesterol tinggi. Semua kondisi tersebut merupakan faktor risiko stroke. Namun, hubungan antara insomnia dan stroke mungkin bersifat dua arah.
"Orang yang memiliki kecenderungan mengalami stroke sangat rentan mengalami insomnia atau kondisi yang mengganggu kualitas dan keteraturan tidur," katanya.
"Sebaliknya, insomnia juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke, terutama karena istilah 'insomnia' sering kali memiliki definisi yang kurang jelas dan hampir menjadi pengganti istilah 'tidur yang buruk'."
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Punya Kebiasaan Malam Seperti Ini? Riset Temukan Risiko Stroke 26 Persen Lebih Tinggi"
